Anak Indonesia di Bawah Bayang-bayang Dampak Negatif Gadget, Pengamat: Mayoritas Tanpa Pengawasan

Sektor pendidikan menjadi satu sektor yang begitu terdampak oleh pandemi Covid 19. Proses belajar mengajar 'dipaksa' dilakukan melalui pembelajaran jarak jauh (PJJ) dengan perantara gawai atau gadget. Pegiat Pendidikan Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK), Kangsure Suroto menilai, dampak negatif dari penggunaan gadget menjadi hal yang mengkhawatirkan.

Menurutnya, dampak gadget dengan segala bentuk konten di dalamnya, mulai dari game hingga media sosial, lebih mengerikan ketimbang aspek ketinggalan pelajaran. Kangsure menyebut tidak adanya pembelajaran tatap muka membuat psikis anak anak terganggu karena setiap hari menghadapi gadget. Ia meyakini mayoritas anak anak tidak diawasi penggunaan gadgetnya.

Apalagi, lanjut Kangsure, gadget menjadi prasyarat pembelajaran jarak jauh (PJJ). "Artinya yang dulu tidak mengenal itu, kemudian dipaksa oleh keadaan untuk mengenal itu," ungkapnya. Meski ada manfaatnya, Kangsure menilai mudarat yang ditimbulkan juga sebanding.

"Antara manfaat dan mudaratnya itu kok saya menilai sebenarnya berimbang, karena (penggunaan gadget) relatif tidak dikendalikan." "Anak di rumah, orangtua bekerja, dipegangi HP, padahal mereka belum bisa mengendalikan untuk memilih mana yang bermanfaat mana yang tidak," ungkap Kangsure. Lebih lanjut, Kangsure menyebut ketika anak anak sudah terganggu dengan keberadaan gadget, media sosial, dan lain lain, membuat anak dapat kehilangan kecerdasan sosialnya.

"(Gadget) ini berdampak pada kecerdasan sosial, kecerdasan emosional yang dimiliki anak." "Anak anak akhirnya menjadi tidak toleran, karena terlalu asik dengan bermain gadget tadi," ungkap Kangsure. Selain itu, kata Kangsure, kecerdasan emosional sang anak relatif terganggu.

"Artinya justru itu menurut saya lebih mengerikan ketimbang dampak akademis," ujarnya. Oleh sebab itu Kangsure menyambut positif mulai diberlakukannya pembelajaran tatap muka (PTM) di sejumlah daerah seiring turunnya kasus Covid 19. Kangsure mendukung kembalinya sekolah tatap muka dengan penyesuaian protokol kesehatan (prokes).

Sementara itu demi mendukung kembalinya pembelajaran tatap muka, pemerintah Indonesia sudah melakukan program vaksinasi usia pelajar, 12 17 tahun. Pemerintah menargetkan vaksin pada 26.705.490 orang di rentang usia ini. Hingga Rabu (15/9/2021) pukul 12.00 WIB, data Kementerian Kesehatan (Kemkes) mencatat dosis pertama vaksin Covid 19 sudah diterima oleh 3.182.584 orang (11,92 persen).

Sedangkan dosis kedua diterima oleh 2.192.071 orang (8,21 persen).

Leave a Reply

Your email address will not be published.